Saturday, August 3, 2013

CIRI KHAS (NILAI PLUS) ORANG KRISTEN (1 Petrus 3:8-12)



Bahan Khotbah Minggu, 4 Agustus 2013
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si


3:8   Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
3:9   dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:
3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

Pada ayat/pasal sebelumnya, Petrus meminta para pembacanya untuk tetap tunduk kepada pemerintah, tuan, dan suami, bahkan orang yang telah berbuat kasar bagi mereka (2:13 – 3:7). Pendekatan umum orang-orang Kristen di tengah-tengah otoritas yang seperti itu terungkap melalui kata-kata di pasal 2:12 “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka”.

Lalu, Petrus hendak melengkapi pembahasannya itu. Kalau sebelumnya dia menasihati pembacanya tentang bagaimana berhadapan dengan dunia/masyarakat luar, sekarang dia juga memberikan nasihat bagi mereka tentang bagaimana memperlakukan satu dengan yang lain di dalam komunitasnya.

Pertama, dia menulis: “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” (ay. 8). Pernyataan ini ditujukan langsung kepada orang-orang percaya, sebab Petrus berkata kepada “semuanya (all of you)”, dan meminta mereka untuk “mengasihi sebagai saudara”. Perkataan “seia sekata” (live in harmony) berarti “menjadi satu pikiran”, atau “sependapat”, atau “hidup harmonis”, atau “memiliki roh yang menyatu”.

Kita tentu sudah tahu, bahwa seluruh Perjanjian Baru diwarnai oleh ajakan demi kesatuan kristiani, misalnya Yesus (Yoh. 17:21-23), dan Paulus yang berulangkali memberi nasihat seputar kesatuan ini (a.l. Roma 12:4, 16; 1 Kor. 1:10; 3:3; 10:17; 2 Kor. 13:11; Ef. 2:13, 14; 4:3-6; Flp. 1:27; 2:2; 4:2). Barclay mengatakan bahwa ini bukan sekadar ajakan, melainkan suatu pengumuman (maklumat) bahwa tidak seorang pun dapat menjalani kehidupan kristiani kecuali dalam hubungan pribadinya ia dapat bersatu dengan sesamanya (Barclay, 2010: 359).

Namun demikian, kesatuan di antara para pengikut Kristus, nampaknya mengalami pergeseran seiring dengan semakin berkembangnya waktu dan meluasnya kekristenan hingga mencapai bentuk seperti yang sekarang ini. Artinya, kesatuan yang pada awalnya selalu terungkap melalui pengajaran/nasihat Yesus dan para rasul, secara perlahan hal itu tidak lagi menjadi ciri khas orang-orang Kristen, termasuk pada zaman penulisan surat 1 Petrus tersebut, apalagi pada zaman sekarang ini. maka, dalam menghadapi berbagai penindasan iman, seperti yang dialami oleh pembaca tulisan Petrus, tidaklah cukup hanya dengan berbuat baik dan menjaga persatuan, tetapi penting juga ada faktor lain yang lebih praktis dan menguntungkan. Demi mencapai itu, maka penting untuk tidak mempersoalkan atau mempermasalahkan perbedaan dokrin dalam rangka menjaga kesatuan di dunia ini. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa tidak perlu ada perbedaan, atau perbedaan haruslah ditekan sedemikian rupa supaya tidak pernah muncul lagi; saya kira hal itu sangat mustahil. Perbedaan-perbedaan itu tetap ada, dan bahkan memiliki potensi untuk mendatangkan rasa curiga, saling tidak percaya, keretakan dan membangkitkan konflik. Nah, kalau perbedaan itu ditekan atau disembunyikan secara paksa atas nama kesatuan, maka cepat atau lambat, bisa saja muncul persoalan yang dapat berkembang menjadi pertengkaran dan perpecahan besar. Dengan kata lain, apabila orang percaya meninggalkan “keyakinan” atau doktrin mereka demi kesatuan di permukaan, maka persatuan ini menjadi sesuatu yang tidak berarti. Kesatuan/persatuan kristiani sangat penting, dan itu menjadi ciri khas kita sebagai orang percaya kepada Kristus. Maka, berbahagialah mereka yang dapat hidup bersama dengan sesamanya sekalipun dalam perbedaan.

Kedua, seperasaan (to be sympathetic) berarti saling berbagi dengan orang lain dalam suka dan duka, dan bersama dengan mereka dalam segala situasi mereka (to be with them at all situation). Rasul Paulus mengatakan di Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”, dan dalam 1 Korintus 12:26 “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita”.

Oleh karena itu, perintah “seperasaan” di sini tidak hanya dorongan untuk bersama dengan sesama dalam bayangan/khayalan kita, tetapi, lebih dari itu, menuntut sikap kita untuk berefleksi bahwa kita memang satu di dalam Kristus. Dalam pengertian yang nyata, apa yang terjadi kepada yang satu atau beberapa orang, terjadi juga kepada kita semua. Jadi, tidaklah Alkitabiah apabila ada orang Kristen hanya memperhatikan diri sendiri. Tidak patut juga apabila merasa senang dengan penderitaan sesama, atau merasa sedih dengan sukacita orang lain. Mengasihi sesama sebagai saudara berarti memelihara kasih sayang terhadap sesama Kristen.

Orang yang “seperasaan” dengan sesamanya, pasti juga memiliki kasih spesial satu terhadap yang lain. Di surga, rasa keterikatan antara orang-orang percaya seharusnya lebih kuat daripada kasih-sayang yang ada di dunia ini. Sayang sekali, ikatan seperti itu jarang terlihat di gereja dewasa ini; kalau demikian yang terjadi, maka kita gagal memperlakukan sesama kita sebagai keluarga di dunia. Seharusnya “mengasihi saudara-saudara” itu menjadi ciri khas dari setiap orang Kristen. Yesus sendiri menekankan hal itu dalam Yohanes 13:35 “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”; lihat juga 1 Yoh. 3:14 “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut”. Orang yang tidak mengasihi sesamanya, sesungguhnya bukan orang Kristen. Sementara itu, penyayang (to be compassionate) berarti memiliki “hati yang lembut” terhadap yang lain, atau “hati yang baik”. Itulah penekanan ketiga sebagai ciri khas orang Kristen menurut Petrus.

Keempat, rendah hati. Menjadi “rendah hati” tidak hanya sekadar refleksi karakter Tuhan dalam diri kita, tetapi kebutuhan penting gereja yang berada di bawah penyiksaan. Kerendahan hati tidak berarti selalu penghinaan dan rendah diri. Kerendahan hati ini tetap menghargai kebaikan dan kemampuan seseorang. Kata Yunani kerendahan hati memang menandakan kelemahan, tetapi sesungguhnya kurangnya kerendahan hati juga menandakan kebodohan (ketidaktahuan). Oleh sebab itu, kerendahan hati sesungguhnya merupakan sesuatu yang dilakukan dalam kesadaran, ketenangan, dan kebebasan. Menjadi rendah hati tidaklah karena dipaksa, juga tidak karena kebetulan. Kristus menyadari bahwa Dia adalah Guru dan Tuhan bagi murid-murid-Nya, tetapi Dia membungkuk untuk melayani mereka, bahkan membasuh kaki mereka (Yoh. 13:13-14). Tindakan Yesus inilah yang seharusnya mendorong kita untuk rendah hati, bahkan sekali pun kita mungkin memiliki beberapa keunggulan dibanding yang lain.

Kiranya menjadi perenungan kita juga bahwa dunia modern dewasa ini selalu berusaha untuk bersaing dan membandingkan diri. Bersaing sehat sangatlah baik, tetapi perlu diwaspadai bahwa pola ini dapat merusak komunitas Kristen. Ketika perhatian utama kita hanya untuk menjadi lebih hebat dan lebih besar dari sesama, dan memperlihatkan superioritas kita atas yang lain, sesungguhnya kita tidak lagi melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Orang yang rendah hati memiliki kemampuan menilai diri sendiri dengan benar, di sana juga ada kekuatan spiritual untuk mempraktikkan kerendahan hati yang membebaskan dan melayani yang lain. Bnd. Roma 12:16 “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”Orang yang memiliki kekayaan, kuasa, atau pendidikan tinggi, sesungguhnya sudah lebih dari yang lain dalam beberapa aspek. Orang yang rendah hati tidak akan memamerkan kelebihannya itu (melagak), dan dia tidak akan menggunakan kelebihannya itu untuk menganggap remeh atau menaklukkan orang lain. Sebaliknya, dia akan membangun hubungan yang baik dengan mereka dalam konsep kesetaraan, menggunakan kelebihannya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kemudian, kelima, Petrus melanjutkan di ayat 9, “Jangan membalas  ...”. Ayat ini berbicara mengenai bagaimana seharusnya orang-orang Kristen menanggapi kejahatan dan caci maki, tidak hanya yang berasal dari luar gereja tetapi juga yang datang dari dalam, di antara sesama orang Kristen (1 Kor. 1:11, 3:3, 6:6-8; 2 Kor. 12:20; Galatia 5:15, 26; Efesus 4:25, 31-32; Kolose 3:8-10; 1 Tes. 5:14-15; Yak. 4:1). Tantangan yang paling menyakitkan justru seringkali datang dari sesama orang Kristen sendiri.

Ketika diserang oleh kejahatan dan caci maki, orang-orang percaya tidak boleh meresponinya dengan tindakan yang sama, tetapi dengan memberkati. Dengan demikian kita meniru Kristus yang berusaha menyenangkan Bapa, dan lebih dari itu, orang lain dapat memuliakan Tuhan kalau mereka melihat kita memiliki nilai lebih dalam hal meresponi kejahatan (lih. 1 Ptr. 2:12). Hal ini juga dapat  menciptakan perdamaian dalam komunitas Kristen. Ketika kita mampu menampung tindakan jahat/caci-mai, dan membalasnya dengan berkat, sesungguhnya kita telah terbukti sebagai orang Kristen yang kuat. Sebaliknya, orang Kristen yang tidak dewasa dan emosional akan marah dan menciptakan permusuhan. Petrus menyampaikan kata-kata pendorong untuk ini: “... karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat”. Mewarisi berkat, itulah panggilan orang Kristen (inherit a blessing).

Mewarisi berkat di dunia ini berarti akan “melihat hari-hari baik”, dan mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, telinga-Nya mendengar permohonan mereka” (ay. 10-12). Bagian ini diambil dari Mazmur 34:12-16, dimana konteksnya berkaitan dengan perhatian, pembebasan, dan perlindungan Tuhan atas kehidupan. Kutipan dari Mazmur ini memperlihatkan kesejajaran yang jelas. Jadi, “mencintai hidup” ada kaitannya dengan “melihat hari-hari baik” (ay. 10); menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu (ay.10). Menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik dalam konteks ini adalah mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya (ay.11). Kalau pada satu sisi Tuhan berpihak kepada orang-orang benar, maka sebaliknya “wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat” (ay.12). Maka, sangatlah beralasan kalau kita dinasihati untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan caci maki dengan caci maki. Rasul Paulus mengatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Roma 12:19). Kalau pembalasan itu hak Tuhan, mengapa orang Kristen seringkali mengambil hak Tuhan itu?
 
Apakah Nilai Plus ini masih  ada dalam diri orang-orang Kristen dewasa ini?
 

No comments:

Post a Comment