Tuesday, December 4, 2012

Menuju Pelayanan Pastoral Holistik BNKP di Nias Pasca Gempa Bumi 28 Maret 2005

Kutipan dari Laporan Penelitian (Tesis) Pdt. Alokasih Gulo, M.Si
Penerbit: PPs MSA UKSW Salatiga, 2012

Dalam kondisi normal, sulit menemukan orang yang menghendaki terjadinya peristiwa gempa bumi dahsyat seperti yang terjadi di Nias tanggal 28 Maret 2005 yang lalu. Namun, sulit juga menemukan orang yang dapat menghentikan terjadinya gempa bumi tersebut, bahkan untuk memprediksikannya merupakan suatu pekerjaan yang sangat sulit. Apa maknanya? Yaitu bahwa paradigma menyatakan “kerajaan Allah” di Nias dalam konteks gempa bumi, merupakan suatu hal yang penting. Paradigma ini hendak mengatakan bahwa dalam konteks gempa bumi, diperlukan suatu kesiapsiagaan menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Kedaruratan kerajaan Allah tidak berarti “tergesa-gesa”, tanpa perencanaan dan kesiapan. Kedaruratan ini justru mendorong kita untuk “berjaga-jaga”, sedapat mungkin mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi kapan dan di mana pun.
Demikian juga halnya dengan dinamika perubahan dalam masyarakat yang akan terjadi pasca gempa bumi. Perlu disadari bahwa perubahan itu merupakan suatu proses yang selalu terjadi di mana saja dan mencakup seluruh tatanan kehidupan yang berlangsung di dunia ini. Daya serapnya akan selalu merembes ke segala segi kehidupan manusia dan akan memengaruhi segala aktivitas dan orientasi kehidupan yang berlangsung. Dalam proses perubahan yang tiada henti itu, peluang, tantangan, dan harapan baru berkaitan dengan pelayanan pastoral muncul dan terus meningkat. Realitas ini menuntut kita untuk menyadari bahwa pelayanan pastoral gereja sudah saatnya dibaharui. Di tengah arus perubahan yang semakin deras itu, maka dengan meminjam istilah Jan Hendriks, “wajah gereja harus berubah jika mengikuti perubahan zaman”.[1] Kondisi masyarakat yang terus berkembang dan berubah membutuhkan pelayanan pastoral yang dapat mencerminkan kepedulian Allah kepada ciptaan-Nya. Persoalannya adalah bahwa gereja seringkali tersisih dan tenggelam dalam arus perkembangan dan perubahan itu, dan seringkali tidak siap/mampu menanggapi berbagai isu aktual (kontemporer) yang sedang terjadi di tengah masyarakat, baik dalam konteks global maupun dalam konteks lokal. Menurut Gordon hal ini disebabkan karena sebagian besar gereja sudah terjebak dalam paradigma dan bentuk lembaganya yang cenderung mempertahankan kemapanan struktural, dan telah menyerah dalam sistem dan praksis yang patologis.[2]
Sejalan dengan itu, arus perkembangan dan perubahan sosial di Nias pasca gempa bumi sangatlah deras. Sayang sekali, perkembangan dan perubahan itu ternyata tidak selalu progresif, malah sebaliknya perkembangan dan perubahan yang terjadi bersifat regresif, yang ditandai dengan semakin kronisnya patologi sosial di Nias. Dalam situasi yang demikian, BNKP harus melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana pada satu sisi “wajahnya berubah” seiring dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi, tetapi pada sisi lain identitasnya sebagai gereja tetap terpelihara. Saya melihat bahwa dalam konteks seperti inilah pelayanan pastoral BNKP perlu memformulasikan pendekatannya dalam menanggapi arus perkembangan dan perubahan masyarakat Nias pasca gempa yang semakin deras. Bagi saya, gereja yang sadar akan kompleksitas kebutuhan jemaat dan masyarakatnya secara konstan akan berusaha menghadapi dan menanganinya dengan paradigma, pendekatan dan pelayanan pastoral yang lebih komprehensif. Dengan demikian, pelayanan pastoral yang selama ini dilakukan, mau tidak mau harus ditransformasi dan diarahkan menuju pelayanan pastoral holistik.
Saya menyadari bahwa pelayanan pastoral holistik bukanlah sesuatu yang baru, namun pada saat yang sama juga saya melihat bahwa pendekatan ini bukanlah sesuatu yang sudah usang. Keistimewaan pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral ini menurut hemat saya adalah keterbukaan (tidak eksklusif) dan fleksibilitasnya (tidak kaku) terhadap perkembangan, perubahan, tuntutan zaman, dan berbagai konteks kehidupan. Keterbukaan dan fleksibilitas ini tidak serta-merta menenggelamkan identitas pelayanan pastoral holistik itu sendiri, sebaliknya justru memperkuat dasarnya, memperluas jangkauannya, dan memperdalam akarnya di dalam Kristus. Saya setuju dengan Aart van Beek yang mengatakan bahwa pelayanan pastoral holistik merupakan pelayanan pastoral yang paling relevan diterapkan di Indonesia oleh karena jemaat dan masyarakat masih banyak bergumul seputar persoalan kemiskinan, ketidakadilan sosial, masalah pluralisme, isu tentang lingkungan hidup, dan berbagai patologi sosio-ekonomi lainnya.[3] Maka, sekali lagi, saya melihat bahwa pendekatan pelayanan pastoral BNKP harus bergerak maju ke arah pendekatan holistik.
Apa artinya? BNKP tidak lagi hanya menunjukkan pemeliharaan dan kepedulian bagi anggotanya saja, tetapi juga kepada mereka yang berada di luar keanggotaan BNKP; tidak lagi pada pencarian jiwa baru, tetapi pada pemaknaan kehidupan; tidak lagi hanya melihat manusia dari aspek spiritual saja, tetapi juga aspek fisik, mental, dan sosial; tidak lagi hanya bersifat individualistik, tetapi juga komunal/sosial; tidak lagi hanya mengandalkan ilmu teologi dengan doa dan Alkitab, tetapi melibatkan ilmu lain yang relevan (interdisipliner); tidak lagi hanya berpusat pada pendeta, tetapi melibatkan profesi lain bahkan kaum awam (integratif-interprofesi); tidak lagi hanya monokultural, tetapi interkultural; serta tidak lagi hanya fokus pada manusia (antroposentris), tetapi pada ciptaan Tuhan secara keseluruhan, pada kehidupan itu sendiri. Perubahan pelayanan pastoral yang seperti inilah yang harus dilakukan oleh BNKP, suatu pendekatan menuju pendekatan holistik. Perubahan ini harus segera dilakukan, karena pada dasarnya pelayanan pastoral itu dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan manusia dan dunia, serta mengimplementasikan fungsi pastoral sesuai dengan konteks dimana pelayanan pastoral itu dilakukan.[4]
Maka, dari sisi ideologi (konsep), saya memahami bahwa pelayanan pastoral holistik (dalam konteks Nias pasca gempa bumi) adalah sebagai berikut:
a.       Suatu pelayanan yang menyadari dan mempercayai bahwa sesungguhnya Allah merupakan subjek utama dari pelayanan pastoral itu sendiri. Dengan demikian pelayanan pastoral yang hendak dilakukan harus berdiri di atas dasar yang telah diletakkan oleh Allah, dan hal ini sekaligus mendorong adanya diskusi pastoral seputar isu pokok teologis dalam pelayanan pastoral itu sendiri.
b.      Suatu pelayanan yang mengakui bahwa Allah memberikan kepercayaan kepada gereja – dalam pengertian yang luas – untuk melibatkan diri dalam pelayanan Allah itu demi kehidupan yang lebih baik. Hal ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral itu tidak bisa dimonopoli oleh para pendeta, guru jemaat, atau pelayan lainnya, tetapi melibatkan seluruh jemaat, masyarakat dan stakeholder yang ada.
c.       Suatu pelayanan yang memperhatikan dan melayani masyarakat Nias secara utuh dan menyeluruh, baik secara individu maupun komunal. Konsep ini hendak mengatakan bahwa sasaran pelayanan pastoral BNKP bukan hanya warga jemaatnya saja, melainkan seluruh masyarakat dari berbagai lapisan dan latar belakang kehidupan. Singkatnya, sasaran pelayanan pastoral adalah dunia dimana kehidupan berlangsung, dan dimana Allah hendak menyatakan kasih dan kepedulian-Nya.
d.      Suatu pelayanan yang memahami manusia dari semua aspek kehidupannya, yaitu fisik, mental, sosial, dan spiritual. Keempat aspek ini saling terkait dan mendapat penghargaan yang sama, walaupun ada penekanan tertentu di salah satu aspek sesuai dengan konteks tertentu.
e.       Suatu pelayanan yang menyatakan keprihatinan dan kepedulian terhadap lingkungan alam (ekologi), dan karenanya mengembangkan ecolife system yang lebih pro-kehidupan.
f.       Suatu pelayanan yang secara reflektif (kritis-positif) menyatakan kepedulian dan kehendak Allah terhadap berbagai sistem dan struktur yang ada dalam masyarakat.
g.      Suatu pelayanan yang mengintegrasikan berbagai bidang ilmu dalam diskusi dan implementasinya.
h.      Suatu pelayanan yang terkelola (manage) dengan jelas, terencana, dan terarah (kesiapsiagaan), sehingga setiap saat kehidupan dapat dibuat menjadi lebih manusiawi.

Jadi, pelayanan pastoral holistik BNKP sebaiknya ditempatkan dalam kerangka pemahaman yang holistik tentang subjek, sasaran, cara, dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan pastoral itu sendiri. Pemahaman holistik ini tentunya memberi penekanan yang sama dan atau berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan konteks yang sedang berkembang.



[1] Jan Hendriks, Jemaat Vital dan Menarik (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 19.
[2] Gordon E. Dames, “The Dilemma of Traditional and 21st Century Pastoral Ministry
[3] Aart van Beek, “Pastoral Counseling in Indonesia”, 151-166.
[4] Bnd. Ibid. Gordon dalam artikelnya ini memberikan contoh bagaimana menerapkan pendekatan pastoral holistik dalam dua komunitas yang berbeda di Afrika Selatan, yaitu komunitas kulit putih, dan komunitas kulit hitam. Komunitas kulit putih yang tidak mengalami persoalan serius dalam kehidupan ekonomi membutuhkan pencarian makna hidup dan spiritualitas di tengah-tengah masyarakat post-modernitas (yaitu penyembuhan/healing dan dukungan/sustaining), sedangkan komunitas kulit hitam membutuhkan pembebasan (liberating), pemberdayaan (empowerment), dan misi kenabian (prophetic mission) di tengah-tengah patologi sosio-ekonomi mereka.

No comments:

Post a Comment